Sumber : Facebook
Nama Akun : Ricky Nugraha.
Nama grup FB : Ngeluh Ngesah Nganggur.
Ini saya tampilkan kisah dari salah satu anggota grup tentang pengalaman nya sebagai seorang laki-laki yang pintar dalam bidang akademik, namun pekerjaan nya tidak sebanding dengan lulusan D3 dan berpredikat cumlaude, bukti bahwa sangat susah nya mencari pekerjaan di bumi Pertiwi ini padahal ijazah ada, pintar pula.
Selamat membaca.
Bukan mau menyombongkan diri. Gue cuma ngerasa, di luar sana banyak orang yang nasibnya mirip kayak gue. Pinter di atas kertas, tapi kalah telak waktu hidup mulai meminta bukti. Nilai bisa tinggi, tapi realita tetap membawa kita ke bawah tanpa peduli.
Bayangin, gue ini mahasiswa lulusan kedua terbaik dengan IPK cumlaude, tiba-tiba jadi kurir. Kayak malu ga sih?
Jujur aja, waktu pertama kali jadi kurir, pikiran gue cuma satu: ini sementara.
Siapa juga sih yang bercita-cita jadi pengantar paket? Naik motor kepanasan, kehujanan, masuk gang sempit cuma buat nganter barang orang.
Tapi waktu itu nyari kerja lagi susah. Gue juga udah bosen kelamaan diem di rumah.
Tiap pagi bangun, belum juga ngapa-ngapain, suasananya udah nggak enak duluan.
Bangun tidur, refleks langsung pegang HP.
Buka WhatsApp, ngecek satu-satu, siapa tahu ada nomor asing yang masuk.
Ternyata nggak ada apa-apa. Sepi.
Siangnya ya gitu-gitu juga. Kadang disuruh emak ke warung, kadang cuma duduk di teras sambil bengong liatin orang berangkat kerja sambil mikir, “gue kapan?”
Sorenya gue nongkrong sama temen. Mereka cerita soal kerjaan. Gue ikut ketawa, tapi dalam hati gue ngerasa sedih. Kayak gue ketawa itu cuma buat nutupin rasa malu karena belum jadi apa-apa.
Malamnya balik ke kamar. Rebahan. Buka laptop, kirim satu-dua lamaran. Tutup lagi. Nunggu lagi.
Besoknya diulang. Lagi. Dan lagi.
Rutinitas yang kelihatannya santai, tapi bikin kepala mumet.
Emak gue tiap hari kerjaannya ngomel-ngomel aja terus, mungkin pusing juga lihat gue yang kelamaan nganggur.
Belum lagi kalau udah mulai dibandingin sama kedua kakak gue. Sakit rasanya.
Mereka berdua udah kerja, hidupnya kelihatan enak. Kakak pertama gue cewek guru, status PNS. Kakak kedua gue cowok perawat, juga PNS. Hidup mereka jelas. Gajinya tetap. Masa depan terjamin pemerintah.
Sementara gue?
Makan. Rebahan. Makan. Rebahan. Kalo bahasa Sundana mah "HARDOLIN" Dahar, modol, ulin.
Gue ngerasa kayak orang yang lagi numpang hidup di rumah sendiri. Bukan karena iri. Lebih ke malu dan bingung, karena gue belum ngapa-ngapain.
“Tuh, kakak lo dua-duanya udah PNS.”
“Kerjanya jelas, hidupnya tenang.”
“Masa lo masih gitu-gitu aja?”
Gue cuma bisa diem. Merasa tersindir.
Sampai akhirnya ada saudara yang ngajakin gue kerja. Jadi kurir.
Waktu itu pikiran gue udah buntu. Tiap hari rasanya muter-muter di tempat yang sama. Jadi pas dia ngomong, “Ikut gue kerja, mau?” gue nggak lama mikir.
“Ya udah lah, gas aja.”
Yang penting pagi gue punya tujuan, bukan cuma bangun terus bingung mau ngapain menunggu waktu yang terus mengalir.
Sekarang, gue tau jawabannya.
Pelan-pelan, gue ngerasa kayak Tuhan itu sedang berbicara di dalam batin gue.
“Ki, jodohmu sedang menunggu di dunia kurir. Aku kirim kamu kesana bukan karena Aku membencimu. Tapi karena ada pelajaran yang harus kamu jemput sendiri dan ada pertemuan yang harus kamu hadiri.”
“Ki, Aku sedang menyiapkanmu untuk sesuatu yang lebih besar. Jalanmu memang berat, tapi Aku percaya kamu mampu melaluinya.
Kelak, ketika keberhasilan Aku titipkan padamu,
jangan biarkan hatimu lupa bagaimana caranya bersyukur.”
“Aku titipkan kepadamu kemampuan menulis.
Tulislah perjalananmu, dan biarkan dunia tahu:
You’ll Never Walk Alone.”
Di titik ini gue sadar satu hal:
hidup itu nggak pernah peduli seberapa pinter lo. IPK cumlaude cuma angka kalau mental kita lemah. Prestasi akademik nggak otomatis bikin dunia segan.
Yang bikin gue jatuh bukan karena hinaan orang, tapi kenyataan bahwa gue pernah ngerasa “layak lebih”, sementara hidup menaruh gue di tempat paling rendah buat ngetes: gue masih mau jalan atau cuma mau ngeluh?
Gue belajar, Tuhan nggak pernah salah naruh orang. Kalau gue ditempatkan di jalan yang panas, becek, dan penuh debu, itu karena hati gue masih perlu digerus. Masih ada ego yang harus dipatahkan. Masih ada kepala yang harus ditundukin.
Dan ini yang paling kejam tapi jujur:
nganggur itu bukan sekadar soal ekonomi,
tapi soal harga diri yang pelan-pelan rontok setiap hari. Bukan karena kita malas, tapi karena kita ngerasa gagal jadi apa yang orang harapkan.
Jadi kalau hari ini lo lagi di bawah, bukan karena dihina orang tapi lo sendiri yang lagi diuji: mau terus nyalahin keadaan, atau berani nerima bahwa hidup nggak pernah berhutang apa-apa ke lo.
Kurir, panas, hujan, gang sempit itu bukan hukuman. Itu tamparan. Biar gue sadar:
nggak ada pekerjaan hina, yang hina itu hati yang menolak belajar.
Dan ketika nanti Tuhan ngasih gue tempat yang lebih tinggi, gue harus ingat satu hal:
kalau gue lupa rasanya diinjak realita, gue pantas dijatuhin lagi.
Karena hidup itu bukan hanya soal seberapa tinggi lo pernah berdiri, tapi seberapa rendah lo sanggup bertahan tanpa kehilangan iman dan akal sehat.
Kalau hari ini lo capek, malu, dan ngerasa sendirian, itu bukan akhir. Itu alarm.
Bangun.
Jalan.
Atau tertinggal selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar